
Selain memberikan
efek “senang”, cerita tutur atau storytelling bermanfaat dalam meningkatkan kreatifitas dan imajinasi anak-anak. Bisa
jadi menambah wawasan apabila kisah yang disampaikan berasal dari negeri atau
budaya-budaya lain. Cerita tutur juga akan meningkatkan kemampuan berbahasa, mendengar,
dan berkomunikasi yang baik pada anak-ana. Setidaknya mereka akan memiliki
kemampuan konseptual dan kecerdasan emosional. Di sisi lain, cerita tutur juga
menjadi metode relaksasi dan keakraban emosi antara penutur dan pendengar,
dalam hal ini guru dan siswa.
Ciptakan
Suasana Nyaman Saat Bercerita
Tentukan tempat yang tenang yang memberikan kenyamanan bagi
anak-anak. Tempat tersebut bisa di taman, halaman, atau tempat yang memberikan
suasana menyenangkan bagi anak-anak. Biasanya tempat-tempat baru yang jarang
dikunjungi memberikan suasana
segar bagi para pendengar cerita.
Pastikan juga bahwa anak-anak sedang memiliki waktu luang untuk
mendengar cerita. Mereka akan berkonsentrasi pada cerita yang disampaikan
apabila pikiran mereka tidak memikirkan kegiatan lain. Waktu yang paling sesuai
adalah ketika sore hari dan cuaca cerah.
Minta anak-anak untuk duduk nyaman di depan Anda. Caranya dengan
membentuk setengah lingkaran. Tatap mata mereka satu persatu untuk menunjukkan
perhatian Anda kepada mereka. Ingat, Anda adalah pusat dari
perhatian mereka.
Katakan, "tunggu", "sabar" kepada anak-anak
yang menyela saat Anda bercerita. Tujuannya supaya cerita bisa tuntas sampai
akhir cerita. Bagaimanapun Anda adalah penentu alur cerita.
Perhatikan Intonasi, Pilihan Kata, dan Suara Dalam Bercerita
Saat bercerita pada anak-anak pilihlah kata-kata yang sederhana,
yang mudah dimengerti oleh mereka. Pastikan juga bahwa anak-anak, bisa
mendengar dengan jelas suara Anda. Berikan penekanan suara pada saat
cerita sampai pada babak yang dramatis. Rendahkan suara pada saat
menceritakan hal-hal yang menyedihkan. Intinya, tinggi rendah suara disesuaikan
dengan suasana cerita. Jika memungkinkan, sesekali, ajak anak untuk menirukan
suara Anda. Seperti misalnya ketika menceritakan bunyi balon meletus, “duarrr”!
Perhatikan
Ekspresi Wajah
Untuk bisa mengekspresikan cerita dengan mimik wajah Anda, Anda
harus pahami dulu apa yang akan diceritakan. Satu hal yang diingat bahwa cerita pendek
untuk anak-anak kecil, kisah yang lebih panjang diperuntukan yang lebih besar. Dengan
demikian, ekspresi wajah Anda saat bercerita menjadi lebih natural. Ingat,
kurangi ekspresi yang berlebihan. Hal ini akan membuat anak-anak tidak
tertarik. Sebaliknya pengekspresian yang natural dan pas membuat para pendengar
cerita larut dalam cerita.
Tentukan Timing yang
Tepat Saat Bercerita
Tentukan jeda saat bercerita di saat yang tepat. Buat anak-anak
penasaran dengan cerita Anda ketika tiba-tiba Anda berhenti bercerita sejenak.
Ubah kecepatan alur cerita ketika anak-anak mulai jenuh. Berikan pula penekanan
yang bervariasi seperti tegang, santai, dan sedih, atau tertawa sesuaikan dengan
waktu. Tertawalah bersama mereka pada saat menceritakan kisah lucu.
Cara Mengakhiri Cerita
Hindari untuk membahas klimaks cerita, Biarkan anak-anak menikmati
cerita itu, cukup satu cerita saja dalam satu waktu. Yakinlah bahwa anak-anak
mampu menyimpulkan sendiri. Apabila bukan pada saat cerita disampaikan, suatu
saat kelak mereka akan menemukan hikmah cerita itu. Di saat cerita sampai
akhir, percepat cerita. Lalu berhenti.
Sumber: buku Sekolah yang Menyenangkan, Kreatif Mengajar dan Pengembangan Karakter Siswa karya Anna Farida.
Identitas Buku:
Judul: Sekolah yang Menyenangkan, Kreatif Mengajar dan Pengembangan Karakter Siswa
Pengarang: Anna Farida. Suhud Rois, dan Edi S. Ahmad
Tahun Terbit: 1Julli 2012
Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung
Bahasa: Indonesia
Genre: Pendidikan
ISBN: 978-602-8394-46-8
0 komentar:
Post a Comment