rangkuman pengetahuan, resensi buku, dan opini

23 January 2012

Testimoni Pemuda Galau

Sahabat saya, Shasa, pernah bertanya, “Apa arti galau buat Sampean, Mas? Saya tidak bisa menjawab seketika. Baru kali ini saya akan ungkapkan apa itu galau bagi saya. Tapi sebelumnya, ada baiknya sampean menyimak cerita ini:


Si pemuda, sebut saja begitu, tokoh utama dalam cerita ini adalah salah satu dari sekian banyak pemuda Indonesia. Ia hidup di tengah negara tanpa jaminan bagi warga negaranya. Si pemuda dalam cerita ini tentu saja salah satu dari sekian banyak pemuda Indonesia yang galau pada negerinya dan sudah pasti galau pada dirinya sendiri. Si pemuda dalam cerita umurnya masih muda, tahun ini usianya 28 tahun. Kata orang usia 28 adalah usia sakral, banyak pemuda mati di usia ini. Banyak pula yang kesuksesannya dibangun pada usia itu pula. Entah pada jalan nasib yang mana si pemuda ini akan berjalan. Jika ada Tuhan, maka Tuhan-lah yang serba tahu akhir nasib si pemuda ini.  

foto:spikemagazine
Pemuda dalam cerita ini sudah beristri, beranak satu, dan belum kepikiran memiliki istri simpanan selebritis ibukota. Sekali lagi memiliki istri simpanan itu pun masih jauh atau lebih tepatnya ia kubur dalam-dalam. Persoalannya tidak lain dan tidak bukan masalah bagaimana membiayai hidup, membelikan bedak, dan seperangkat alat kecantikan lain yang tentu saja tidak terjangkau oleh kantong si pemuda. Ah! Dia memang sekian dari sekian juta pemuda Indonesia yang masih bergelut untuk membuat dapur tetap ngebul, susu anak tetap terbeli, dan tentu saja membahagiakan anak dan istri. Cita-cita yang sederhana itu pun belum tergapai, bagaimana mungkin memiliki istri simpanan selebritis ibukota? Meski cita-cita itu gratis, cita-cita memiliki istri simpanan selebritis itu agaknya tak akan diambil oleh si pemuda. Saya tahu persis siapa dia.

 Pada akhirnya saya tahu si pemuda dalam cerita ini berjuang dalam nasibnya yang sunyi. Title sarjana yang pernah ia peroleh tak pernah digunakannya. Karena yang saya tahu ia jenis manusia yang (sok) menjunjung kemerdekaan. Ia tak sepenuhnya menolak menjadi pegawai atau karyawan, tapi ia lebih menghargai kemerdekaan menjadi manusia. Meski terkadang kemerdekaan itu justru membuat langkahnya tersandung—tesendat—jatuh—dan kemudian bangkit lagi. Hehehe…ia tipe pemuda yang absurd, mengangkat sebonglah cita-cita ke puncak gunung  idealism: mensejahterakan diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya.

Pernah pada suatu ketika saya melihat si pemuda itu benar-benar tidak sedang memetaforakan absurditas sebagaimana dilakukan Albert Camus. Ia membawa sekarung pupuk kandang basah di atas kepalanya menaiki puncak bukit untuk memupuk tanaman di sana. Berulangkali ia terpeleset, Beban yang ia bawa dan harapan yang ia semaikan di puncak sana selalu membuatnya hidup. Berulangkali ia terjerembab, dan beberapa kali jatuh di jalanan gunung yang licin dan becek. Ia pernah menasehati saya untuk tak menyesali nasib, untuk tak risau, untuk tak gampang galau. Yah dia dihidupi oleh sebuah absurditas.

Tapi pernah saya lihat pula, pemuda dalam cerita ini begitu murung ketika ia tak lagi dipercaya oleh saudara apalagi tetangga. “Saya dianggap pengangguran!” katanya pada saya pada satu tengah malam. Saya sendiri sering kasihan melihatnya dilabeli “sarjana pengangguran”. Saya tahu ia berada dalam habitus yang tidak pas. Ada semacam “jejaring ekosistem” yang hilang dari dirinya sebagai species yang punya naluri untuk selalu bebas menentukan diri sendiri. Species setengah urban dan setengah ndeso.

Melihat si pemuda ini saya jadi tahu galau adalah sebuah proses di mana manusia melihat dirinya sendiri. Proses di mana manusia menyadari ada yang kurang dalam dirinya. Ada yang hendak ia gapai. Galau itu natural seiring proses penemuan. Maka tak mengherankan bila mereka yang galau kemudian bertanya pada diri sendiri, pada tukang ramal, pada Tuhan, dan pada google. Sebab barangkali di tempat itu mereka menemukan jawabannya. Galau kurang lebih mirip sebagaimana yang dikatakan dalam The Myth of Sisyphus

Sahabat saya, Shasa, itu tadi cerita tentang seorang pemuda yang galau. Dan Sampean apakah sudah tahu, pemuda dalam cerita itu adalah saya.        
  

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Testimoni Pemuda Galau

4 komentar:

Misni Parjiati said...

Generasi sekarang memang generasi galau. Sayangnya, kebanyakan dari mereka galau tentang hal remeh. JIka dibandingkan dengan kegaulauan si pemuda itu, sepertinya galau karena pacar, putus, cinta yang tak tersampaikan tidak berarti.

Menurutmu, apakah yang akan dipikirkan Camus bila tahu bahwa kegalauan jadi sebuah komoditas?

Misni Parjiati said...

Generasi sekarang memang generasi galau. Sayangnya, kebanyakan dari mereka galau tentang hal remeh. JIka dibandingkan dengan kegaulauan si pemuda itu, sepertinya galau karena pacar, putus, cinta yang tak tersampaikan tidak berarti.

Menurutmu, apakah yang akan dipikirkan Camus bila tahu bahwa kegalauan jadi sebuah komoditas?

Nathalia said...

saya rasa pemuda galau itu, suatu saat akan memetik hasilnya.. alam punya cara untuk membalas kebaikan manusia, tapi terkadang manusialah yang sering lalai untuk membalas kebaikan alam :)

ArTkanhendra said...

ckckckck tetap #semangART mas :) *komentarsesamapejuang28*