Sahabat saya,
Shasa, pernah bertanya, “Apa arti galau buat Sampean, Mas? Saya
tidak bisa menjawab seketika. Baru kali ini saya akan ungkapkan apa itu galau
bagi saya. Tapi sebelumnya, ada baiknya sampean menyimak cerita ini:
Si pemuda, sebut saja begitu, tokoh utama
dalam cerita ini adalah salah satu dari sekian banyak pemuda Indonesia. Ia
hidup di tengah negara tanpa jaminan bagi warga negaranya. Si pemuda dalam
cerita ini tentu saja salah satu dari sekian banyak pemuda Indonesia yang galau
pada negerinya dan sudah pasti galau pada dirinya sendiri. Si pemuda dalam
cerita umurnya masih muda, tahun ini usianya 28 tahun. Kata orang usia 28 adalah
usia sakral, banyak pemuda mati di usia ini. Banyak pula yang kesuksesannya
dibangun pada usia itu pula. Entah pada jalan nasib yang mana si pemuda ini akan
berjalan. Jika ada Tuhan, maka Tuhan-lah yang serba tahu akhir nasib si pemuda
ini.
![]() |
| foto:spikemagazine |
Pada
akhirnya saya tahu si pemuda dalam cerita ini berjuang dalam nasibnya yang
sunyi. Title sarjana yang pernah ia peroleh tak pernah digunakannya. Karena yang
saya tahu ia jenis manusia yang (sok) menjunjung kemerdekaan. Ia tak sepenuhnya
menolak menjadi pegawai atau karyawan, tapi ia lebih menghargai kemerdekaan
menjadi manusia. Meski terkadang kemerdekaan itu justru membuat langkahnya
tersandung—tesendat—jatuh—dan kemudian bangkit lagi. Hehehe…ia tipe pemuda yang
absurd, mengangkat sebonglah cita-cita ke puncak gunung idealism: mensejahterakan diri sendiri,
keluarga, dan masyarakatnya.
Pernah pada suatu ketika saya melihat si
pemuda itu benar-benar tidak sedang memetaforakan absurditas sebagaimana dilakukan Albert Camus. Ia membawa
sekarung pupuk kandang basah di atas kepalanya menaiki puncak bukit untuk
memupuk tanaman di sana. Berulangkali ia terpeleset, Beban yang ia bawa dan
harapan yang ia semaikan di puncak sana selalu membuatnya hidup. Berulangkali
ia terjerembab, dan beberapa kali jatuh di jalanan gunung yang licin dan becek.
Ia pernah menasehati saya untuk tak menyesali nasib, untuk tak risau, untuk tak
gampang galau. Yah dia dihidupi oleh sebuah absurditas.
Tapi pernah saya lihat pula, pemuda dalam
cerita ini begitu murung ketika ia tak lagi dipercaya oleh saudara apalagi
tetangga. “Saya dianggap pengangguran!” katanya pada saya pada satu tengah
malam. Saya sendiri sering kasihan melihatnya dilabeli “sarjana pengangguran”.
Saya tahu ia berada dalam habitus yang tidak pas. Ada semacam “jejaring
ekosistem” yang hilang dari dirinya sebagai species yang punya naluri untuk
selalu bebas menentukan diri sendiri. Species setengah urban dan setengah
ndeso.
Melihat si pemuda ini saya jadi tahu galau
adalah sebuah proses di mana manusia melihat dirinya sendiri. Proses di mana
manusia menyadari ada yang kurang dalam dirinya. Ada yang hendak ia gapai.
Galau itu natural seiring proses penemuan. Maka tak mengherankan bila mereka
yang galau kemudian bertanya pada diri sendiri, pada tukang ramal, pada Tuhan,
dan pada google. Sebab barangkali di tempat itu mereka menemukan jawabannya. Galau kurang lebih mirip sebagaimana yang dikatakan dalam The Myth of Sisyphus.
Sahabat saya,
Shasa, itu tadi cerita tentang seorang pemuda yang galau. Dan Sampean
apakah sudah tahu, pemuda dalam cerita itu adalah saya.

4 komentar:
Generasi sekarang memang generasi galau. Sayangnya, kebanyakan dari mereka galau tentang hal remeh. JIka dibandingkan dengan kegaulauan si pemuda itu, sepertinya galau karena pacar, putus, cinta yang tak tersampaikan tidak berarti.
Menurutmu, apakah yang akan dipikirkan Camus bila tahu bahwa kegalauan jadi sebuah komoditas?
Generasi sekarang memang generasi galau. Sayangnya, kebanyakan dari mereka galau tentang hal remeh. JIka dibandingkan dengan kegaulauan si pemuda itu, sepertinya galau karena pacar, putus, cinta yang tak tersampaikan tidak berarti.
Menurutmu, apakah yang akan dipikirkan Camus bila tahu bahwa kegalauan jadi sebuah komoditas?
saya rasa pemuda galau itu, suatu saat akan memetik hasilnya.. alam punya cara untuk membalas kebaikan manusia, tapi terkadang manusialah yang sering lalai untuk membalas kebaikan alam :)
ckckckck tetap #semangART mas :) *komentarsesamapejuang28*
Post a Comment