rangkuman pengetahuan, resensi buku, dan opini

11 August 2009

Menulis ke Mana-mana

Mbah Surip tidak bohong: bangun tidur, tidur lagi, bangun tidur, tidur lagi, banguuuuuuuuuuuun, tidur lagi!

Saya, hari ini, adalah lagu itu. Edan! 8 jam lebih dihabiskan hanya untuk tidur? Kata orang, saya termasuk golongan orang yang rugi, yang menyia-menyiakankan waktu. Bukankah 8 jam itu saya bisa berproduksi? Bukankah 8 jam itu saya seharusnya ada di kantor mengerjakan tugas dari bos?

Lalu di mana tanggung jawab saya, lalu ke mana disiplin itu?

Hari ini, saya termasuk orang yang menjadi budak waktu. Saya seperti tak kuasa menjadi tuan bagi waktu saya sendiri. Waktu yang seharusnya bisa ditentukan dan dikendalikan, serta dikontrol. Inilah yang disebut sebagai disiplin. Dalam disiplin waktu sama dengan tempat, harus apa, dan bagaimana. Pada kasus saya waktu sama dengan lalai dan tidak untuk apa-apa., serta sedikit untuk kenapa?

Tapi hidup beserta waktu di dalamnya, barangkali, seperti kata Rendra, "tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh". Lagi pula waktu yang bisa ditentukan dan dikendalikan tadi tak bisa ditarik ulang ke belakang. Jika demikian, Anda dan saya sepenuhnya tak bisa mengontrol waktu secara utuh.

Namun bukan itu persoalannya. Persoalan yang lebih mendasar adalah rutinitas. Baca lagi syair lagu "tidur lagi" punya mbah Surip itu. Tidur menjadi rutinitas yang berulang-ulang. Lagu itu sedang mengejek saya. Lagu itu juga mungkin sedang mengejek orang-orang maha sibuk! Waktu, dalam lagu itu, begitu dinikmati meskipun tak berproduksi. Lagu itu sama sekali tak menemukan titik temu dengan garis kerja keras. Tapi bisa menemukan titik yang pas, semacam g-spot, yang bisa untuk menggeliat dan mengaduh nikmat.

Sudahlah, hidup bukan untuk mengeluh dan tidak untuk terus melamun. Hidup adalah menulis, berpikir dan bertindak, menyatukan diri dalam kata, alam, dan hentakan jemari di tiap tut-tut keyboard. Dengan demikian barangkali waktu bisa digendong ke mana-mana. Ini mungkin lebih enak to, lebih manteb to, dari pada terus berkeluh dan berkesah.

"Hayo mau ke mana?" menulis ke mana-mana, Mbah!

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Menulis ke Mana-mana

1 komentar:

Coffee Time said...

Halo mas Agung...salam kenal ya..

menulis ke mana-mana....:)